SITH ITB Dorong Penguatan Green Skills melalui Sistem Hidroponik Perkotaan di Sumedang, Jawa Barat

Bandung, sith.itb.ac.id – Dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Taufikurahman, menegaskan pentingnya pengembangan keterampilan hijau (green skills) sebagai strategi berkelanjutan dalam menjawab tantangan lingkungan dan ketahanan pangan perkotaan. Hal tersebut disampaikan dalam kuliah ICE Masterclass bertajuk “Pengembangan Green Skill Masyarakat Melalui Pengolahan Limbah Organik dan Akuaponik Menuju Sustainable Circular Urban Farming”.
Dalam pemaparannya, Dr. Taufikurahman menjelaskan bahwa kawasan perkotaan di Indonesia saat ini dihadapkan pada dua tantangan utama keberlanjutan, yaitu krisis pengelolaan sampah dan menurunnya ketahanan pangan. Lebih dari 50 persen sampah yang dihasilkan masyarakat berupa limbah organik yang belum dikelola secara optimal, sementara keterbatasan lahan, tingginya biaya hidup, serta inefisiensi penggunaan air semakin memperumit sistem produksi pangan konvensional.
“Penguatan green skill menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya memahami persoalan lingkungan, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata yang berkelanjutan dan aplikatif,” ujar Dr. Taufikurahman.
Ia menambahkan bahwa keterampilan hijau tidak hanya mencakup penguasaan pengetahuan teknis, tetapi juga keterampilan praktis serta sikap kerja yang selaras dengan prinsip keberlanjutan dan ekonomi hijau. Namun demikian, keterampilan tersebut dinilai masih belum terintegrasi secara optimal dalam sistem pendidikan dan pelatihan, sehingga diperlukan pendekatan pembelajaran yang lebih aplikatif, kontekstual, dan berbasis permasalahan nyata.
Kurikulum ICE Masterclass ini disusun secara bertahap dan terintegrasi, diawali dengan penguatan landasan konseptual, kemudian dilanjutkan dengan materi integrated urban farming sebagai model pertanian perkotaan berbasis ekonomi sirkular. Peserta juga dibekali pemahaman mengenai pengelolaan limbah anorganik industri dan pertambangan, sistem hidroponik, serta penerapan konsep green building dan vertical farming dalam menciptakan ruang urban yang produktif dan ramah lingkungan. Seluruh rangkaian pembelajaran ditutup dengan kuis sebagai sarana evaluasi pemahaman peserta.
Salah satu materi yang mendapat perhatian khusus adalah penerapan sistem hidroponik yang terintegrasi dengan konsep green building di lingkungan perkotaan. Materi ini menunjukkan bahwa produksi pangan dapat dilakukan secara efisien di ruang terbatas melalui pemanfaatan dinding bangunan, atap, maupun area sisa perkotaan, tanpa mengganggu fungsi utama bangunan. Integrasi tanaman ke dalam struktur bangunan tidak hanya berperan sebagai sumber pangan, tetapi juga berkontribusi dalam peningkatan kualitas udara serta kenyamanan termal kawasan terbangun.
Penekanan pada materi ini dinilai penting karena memberikan contoh konkret penerapan ilmu hayati dalam menjawab persoalan perkotaan, khususnya keterbatasan lahan dan degradasi kualitas lingkungan. Selain itu, pendekatan tersebut relevan dengan pengembangan green skills masyarakat karena mengintegrasikan aspek teknis, desain, dan keberlanjutan, sekaligus membuka peluang lahirnya inovasi dan wirausaha hijau yang dapat diterapkan secara luas di wilayah urban.
Melalui kegiatan ini, SITH ITB menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan ilmu hayati yang berdampak langsung bagi masyarakat. ICE Masterclass ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran ekologis, meningkatkan kemandirian pangan perkotaan, serta mendorong terciptanya inovasi dan kewirausahaan hijau berbasis pengelolaan limbah dan pertanian berkelanjutan.
Kontributor: Trinitaty Bulan M Hutabarat (21325017), Biomanajemen
Editor: Rika Wahyuningtyas