Akselerasi Masa Depan Genomika Indonesia: SITH ITB dan Synbio Indonesia Gelar Synbiotechfest 2025
Bandung, sith.itb.ac.id – Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Synbio Indonesia sukses menggelar Synbiotechfest 2025 pada 29 November 2025, di Multipurpose Hall CRCS ITB. Mengusung tema “Accelerating Indonesia’s Genomics Future”, acara ini menjadi ruang temu strategis yang mempertemukan akademisi, industri, pemerintah, dan komunitas mahasiswa dalam membahas arah perkembangan genomik nasional.
Pemilihan tema genomik tahun ini dinilai relevan dengan dinamika global dan kebutuhan nasional. Co-founder Synbio Indonesia sekaligus alumni SITH ITB, Muhammad Farhan Maulana, menyampaikan bahwa genomik kini telah bertransformasi dari sekadar ranah penelitian menjadi infrastruktur dasar yang menunjang berbagai inovasi bioteknologi.
“Tahun ini kami melihat genomik perlahan menjadi tulang punggung inovasi bioteknologi; mulai dari kedokteran presisi, diagnostik, agrikultur, hingga mikrobiom. Di tingkat nasional, Kementerian Kesehatan telah menginisiasi Biomedical Genome Science Initiative (BGSI) sebagai fondasi pengembangan kedokteran presisi,” ujar Farhan.
Lebih lanjut, Farhan menambahkan bahwa Synbiotechfest hadir untuk menyambungkan inisiatif tersebut dengan ekosistem yang lebih luas, termasuk kampus, startup, serta industri bioteknologi.

Prof. Fenny saat sesi pemaparan materi pada acara Synbiotechfest 2025.
Dalam sesi pemaparan, Prof. Dr. Fenny M. Dwivany, dosen Kelompok Keilmuan Genetika dan Biologi Molekuler (KK GBM) SITH ITB, menekankan bahwa genomik dan biologi sintetik merupakan kunci untuk membuka potensi megabiodiversitas Indonesia. Menurutnya, teknologi ini menjadi pilar penting dalam mendorong bioprospeksi, konservasi, dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya hayati nasional.
“Genomik adalah dasar percepatan penemuan hayati baru; mulai dari enzim dan metabolit bioaktif hingga jalur biosintesis organisme laut, darat, dan mikroba ekstrem,” jelas Prof. Fenny.
Menurutnya, ketersediaan data genomik nasional sangat penting untuk memperkuat ketahanan pangan, kesehatan, dan industri bioteknologi berbasis keanekaragaman hayati Indonesia.
Beliau juga memaparkan sejumlah studi unggulan yang digagas SITH ITB dan mitra nasional dalam pengembangan biologi sintetik. Salah satunya adalah riset multi-omik pada pisang Indonesia melalui kolaborasi The Banana Group ITB bersama BRIN dan mitra lainnya. “Indonesia merupakan salah satu pusat keragaman genetik pisang dunia. Studi multi-omics yang kami lakukan menunjukkan potensi pisang sebagai sumber protein Banana Lectin (BanLec) yang berpotensi sebagai antivirus, antikanker, dan pengembangan diagnostic kit berbasis teknologi biologi sintetik,” paparnya.

Pemaparan Prof. Fenny terkait riset multi-omik pada pisang dan temuannya pada acara Synbiotechfest 2025.
Selain itu, Prof. Fenny menyoroti pentingnya eksplorasi genom organisme laut dalam Indonesia. Melalui ekspedisi TRIUMPH 2019 dan OCEANX 2024 bersama BRIN, tim berhasil mempublikasikan data genom pertama mikroorganisme laut dalam Indonesia, Prestia flexa, yang kemudian dianalisis melalui genome mining dan direkayasa secara metabolik untuk optimasi produksi likopen.
“Pemanfaatan data genom mikroba laut Indonesia sangat penting untuk bioprospeksi dan ekonomi biru. Studi-studi ini menunjukkan bagaimana genomik dan biologi sintetik dapat menghasilkan inovasi nyata bagi kesehatan, pangan, dan industri hayati,” ungkap Prof. Fenny.

Salah satu booth dari komunitas dan industri bioteknologi yang turut menghadiri Synbiotechfest 2025, sebagai ruang temu lintas sektor.
Acara ini juga menyoroti urgensi hilirisasi dan kolaborasi lintas sektor untuk mendorong kemandirian bioteknologi nasional. Prof. Fenny menegaskan bahwa implementasi riset hingga tahap produk memerlukan keterlibatan industri sejak awal.
“Tujuan akhirnya adalah Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi produsen inovasi berbasis biodiversitasnya sendiri, yang berkelanjutan, kompetitif, dan berdaya saing global. Kita harus membangun rantai nilai bioteknologi nasional, dari laboratorium hingga biomanufaktur,” tegasnya.
Farhan turut menekankan pentingnya kesinambungan ruang temu seperti Synbiotechfest, yang menurutnya berhasil menghadirkan potret nyata ekosistem genomik Indonesia.
“Dalam satu ruang, hadir finalis siswa SMA, peneliti, startup diagnostik, hingga pemerintah, membahas bagaimana mengubah data genomik menjadi solusi konkret. Kegiatan seperti ini perlu menjadi agenda rutin agar jembatan antara kebijakan, riset, dan implementasi klinis semakin kuat,” ungkap Farhan.

Presentasi inovasi dari finalis BIOS (Bioinformatics and Synthetic Biology Competition) 2025 tingkat SMA dan Sarjana.
Rangkaian sesi seminar menghadirkan pembicara dari berbagai sektor seperti Nusantics, PathGen, dan Genomik Solidaritas Indonesia. Diskusi mencakup bioprospeksi mikroba, inovasi kit diagnostik, tata kelola data genom, hingga pengembangan biomaterial masa depan.
Kesan positif turut disampaikan Prof. Fenny, yang menilai antusiasme peserta melalui keterlibatan akademisi, peneliti muda, industri, dan pemerintah. “Diskusi yang muncul sangat konstruktif. Ini menunjukkan bahwa kita sudah bergerak bersama ke arah penguatan ekosistem genomik nasional,” ujar Prof. Fenny.

Sesi diskusi yang dihadiri oleh narasumber Prof. Fenny (SITH ITB) dan Revata Utama (Founder & CEO Nusantics).
Menutup kegiatan, Synbio Indonesia telah menyiapkan langkah tindak lanjut yang konkret. Farhan menjelaskan rencana pengembangan Indonesia Biotech/Genomics Directory untuk memetakan ekosistem bioteknologi nasional dengan kolaborasi lintas sektor, serta program mentoring lanjutan bagi peserta kompetisi BIOS.
Bagi para mahasiswa dan peserta, Farhan berpesan agar terus konsisten dalam berproses. “Genomik dan bioteknologi seperti marathon jangka panjang. Dapat dimulai dari mencari satu langkah kecil, seperti bergabung di komunitas, belajar analisis data genomik, mengikuti kompetisi seperti BIOS maupun terlibat dalam tim riset di laboratorium. Konsistensi mengambil langkah kecil namun terus berulang adalah kuncinya,” pesannya.

Foto bersama seluruh pemateri dan peserta Synbiotechfest 2025, di Multipurpose Hall CRCS ITB.
Sementara itu, Prof. Fenny menyampaikan harapannya agar momentum ini menjadi fondasi ruang kolaborasi genomik nasional yang lebih terintegrasi. “Dengan potensi biodiversitas yang dimiliki Indonesia, kita memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin regional dalam riset dan inovasi berbasis sumber daya hayati,” tutup Prof. Fenny.
Kehadiran SITH ITB dalam Synbiotechfest 2025 kembali menegaskan komitmen institusi dalam mendorong kemajuan genomik dan bioteknologi nasional. Melalui kolaborasi strategis dan kontribusi riset yang berkelanjutan, SITH ITB akan terus berperan aktif dalam mendukung agenda inovasi berbasis ilmu hayati dan pengelolaan sumber daya genetik Indonesia.
Kontributor: Salma Sadiah (Bioteknologi, 2024)
Editor: Rika Wahyuningtyas