Enter your keyword

Pameran Ekspedisi Patriot: Dosen SITH ITB Soroti Pemberdayaan Komoditas Unggulan di Kawasan Marioriwawo

Pameran Ekspedisi Patriot: Dosen SITH ITB Soroti Pemberdayaan Komoditas Unggulan di Kawasan Marioriwawo

Bandung, sith.itb.ac.id— Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Direktorat Eksekutif Multi Kampus (DEMK) dan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) menggelar Pameran Program Ekspedisi Patriot pada hari Senin (23/2/2026), di Gedung CADL, ITB Kampus Ganesha. Salah satu yang memamerkan capaian positif dari hasil ekspedisi tersebut dilakukan oleh dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Dr. Eri Mustari.

Dr. Eri menjadi salah satu dosen yang terlibat dalam Ekspedisi Patriot. Dr. Eri dan tim bertugas untuk melakukan ekspedisi di kawasan transmigrasi Marioriwawo, Kabupatan Sopeng, Sulawesi Selatan selama kurang lebih empat bulan.

Dr. Eri bersama tim melakukan kajian terhadap komoditas unggulan kawasan tersebut, yaitu jagung, cokelat, dan sawit. Dr. Eri mengemukakan bahwa jagung merupakan komoditas unggulan yang paling banyak dikembangkan. Namun, masalah hadir ketika tanaman jagung ditanam di lokasi yang sama terus-menerus, terlebih pada lahan dengan kemiringan 15%. Hal ini membuat lapisan tanah bagian top soil mulai menipis dan ini berisiko apabila terus ditanami. Oleh karena itu, menurut Dr. Eri salah satu rekomendasi yang diberikan adalah menata lahan menggunakan terasering atau dilakukan pergantian tanaman tahunan secara bergilir. Adapun untuk komoditas kakao, penanamannya sudah banyak dilakukan tetapi belum menjadi prioritas hasil kajian. Sementara itu, komoditas sawit tidak direkomendasikan untuk pengembangan secara besar karena keterbatasan lahan.

Selain itu, Dr. Eri juga merekomendasikan pengembangan jagung dengan konsep terintegrasi. Beliau memaparkan bahwa produksi jagung yang tinggi ini menimbulkan sampah dengan jumlah banyak, khususnya dari bagian jagung yang belum dimanfaatkan, seperti tongkol, batang, dan daun.

“Limbah-limbah itu bisa menjadi alternatif untuk dijadikan pupuk atau pelet untuk pakan lele. Oleh karena itu, pengembangan ke depan sebaiknya dilakukan penataan lahan yang juga diintegrasikan dengan upaya konservasi,” tuturnya.

                       

Proses yang ditempuh oleh Dr. Eri dan tim cukup panjang. Dr. Eri dan tim memakan waktu yang cukup lama untuk memperoleh data karena datanya berasal dari banyak pihak, seperti dinas-dinas terkait dan masyarakat kawasan. Focus Group Discussion dan pemaparan hasil kajian dilakukan kepada para tokoh dinas terkait, para stakeholder di kawasan tersebut, hingga kelompok tani.

Tentunya Dr. Eri dan tim melalui beragam tantangan, salah satunya minimnya fasilitas internet di kawasan tersebut. Dr. Eri mengaku dirinya harus menempuh perjalanan ke kecamatan untuk mendapatkan internet. Kualitas internetnya pun masih kurang baik. Hal tersebut tidak menyurutkan semangat Dr. Eri dan tim untuk memberikan dampak nyata di kawasan tersebut.

Dr. Eri berharap bahwa hasil kajian yang dilakukannya bersama tim bisa menjadi rekomendasi yang bisa diimplementasikan oleh kementerian. “Harapan saya, kawasan Marioriwawo bisa berkembang. Hasil kajian yang dilakukan harapannya bisa memberikan rekomendasi untuk diimplementasikan oleh kementerian. Keterlibatan semua pihak sangat penting untuk mendukung perkembangan dan kemajuan kawasan tersebut. Saya harap kegiatan ini bisa bermanfaat untuk kawasan tersebut,” ujarnya.

Terima kasih kepada Dr. Eri dan tim atas dedikasinya untuk mengabdi kepada masyarakat. Semoga kegiatan ini membawa manfaat bagi banyak pihak.

Kontributor: Fauzia Ayu Lestari 21124306 Bioteknologi

Editor: AKH

X