Enter your keyword

Orasi Ilmiah Guru Besar SITH ITB: Prof. Dr. Devi Nandita Choesin Soroti Peran Strategis Lahan Basah Pesisir dalam Mitigasi Perubahan Iklim

Orasi Ilmiah Guru Besar SITH ITB: Prof. Dr. Devi Nandita Choesin Soroti Peran Strategis Lahan Basah Pesisir dalam Mitigasi Perubahan Iklim

Bandung, sith.itb.ac.id – Salah satu dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH ITB), Prof. Dr. Devi Nandita Choesin, M.Sc., telah melakukan orasi ilmiah pada Sabtu (9/4/26), di Aula Barat, Kampus Ganesha. Pada kesempatan tersebut, Prof. Devi menyampaikan orasi berjudul “Lahan Basah Pesisir sebagai Ekosistem Karbon Biru untuk Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim”.

Prof. Devi membuka pemaparannya dengan menjelaskan konteks sejarah istilah lahan basah (wetland) yang mulai dikenal secara global sejak penandatanganan Konvensi Ramsar pada 1971. Beliau menyoroti pergeseran pandangan manusia terhadap lahan basah, yang hingga pertengahan abad ke-20 masih sering dianggap memiliki konotasi negatif sebagai wasteland (lahan tidak produktif) atau sumber penyakit, menjadi sebuah ekosistem kompleks yang sangat sehat dan mampu menyediakan jasa ekosistem (ecosystem services) vital bagi kesejahteraan manusia.

Potensi Masif Karbon Biru Indonesia

Prof. Devi memaparkan bahwa ekosistem pesisir seperti hutan mangrove dan padang lamun, yang kini dikenal sebagai ekosistem karbon biru (blue carbon ecosystems), sangat efisien dalam menyerap dan menyimpan karbon dengan laju yang jauh lebih tinggi dibandingkan ekosistem daratan lainnya.

“Diperkirakan bahwa daerah mangrove dan padang lamun di Indonesia menyimpan 3,4 Pg karbon atau kira-kira 17% dari cadangan karbon biru dunia,” jelasnya. Beliau menambahkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan kontribusi karbon biru tertinggi kedua di dunia setelah Australia.

Mekanisme Penyimpanan Karbon dan Pentingnya Konservasi

Keistimewaan lahan basah terletak pada kondisi tanahnya yang jenuh air, sehingga proses dekomposisi materi organik terhambat dan karbon dapat tersimpan dengan aman di dalam sedimen hingga ribuan tahun. Namun, Prof. Devi memperingatkan adanya ancaman serius jika ekosistem tersebut dialihfungsikan. Jika lahan basah rusak karena aktivitas manusia, oksigen akan masuk dan materi organik akan cepat terurai. Hal ini menyebabkan karbon yang lama tersimpan justru terlepas ke atmosfer, meningkatkan efek rumah kaca.

“Hal ini menjadi alasan mengapa lebih penting untuk mengkonservasi dan mempertahankan ekosistem yang ada daripada merestorasi ekosistem yang telah rusak,” tegasnya.

Integrasi Kebijakan dan Keterlibatan Masyarakat

Isu karbon biru kini telah bertransisi menjadi komponen formal dalam kebijakan iklim nasional. Hal ini didukung oleh terbitnya Rencana Aksi Nasional perlindungan dan pengelolaan ekosistem karbon biru hingga 2030, serta Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang penyelenggaraan instrumen nilai ekonomi karbon. Meskipun regulasi telah ada, Prof. Devi menekankan bahwa implementasi target penurunan emisi (NDC) harus melibatkan masyarakat. Proyek konservasi skala komunitas harus dijalankan secara beriringan tanpa mengorbankan keadilan sosial maupun mata pencaharian warga pesisir.

Profil Prof. Devi Nandita Choesin

Ketertarikan Prof. Devi pada ekologi lahan basah bermula sejak hampir 40 tahun lalu saat beliau melanjutkan studi tinggi di Amerika Serikat. Ia banyak belajar mengenai pelestarian lingkungan dari para pembimbingnya, termasuk dari Ohio State University. Selama berkarier di Kelompok Keilmuan Ekologi SITH ITB, beliau mendedikasikan penelitiannya untuk mengisi kesenjangan pengetahuan (knowledge gaps) mengenai konektivitas ekosistem karbon biru di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Selain menjadi peneliti dan akademisi yang berdedikasi tinggi bagi kelulusan mahasiswa bimbingannya, Prof. Devi merupakan sosok yang hangat dan sangat mensyukuri dukungan dari keluarga besarnya.

Reporter: Aura Salsabila Alviona (Bioteknologi, 2025)

X