BAMBOO EXPO 2026: SITH ITB Dorong Kolaborasi Sains, Desain, dan Industri untuk Inovasi Material Bambu yang Berkelanjutan
Bandung, sith.itb.ac.id – Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Kelompok Keahlian (KK) Teknologi Kehutanan sukses menyelenggarakan Bamboo Expo 2026 pada Senin, 18 Mei 2026, di Design Center CADL, Kampus ITB Ganesha. Mengusung tema besar “Peran Sains, Teknologi, dan Seni dalam Meningkatkan Nilai Tambah Bambu di Indonesia”, acara ini menjadi ruang kolaborasi strategis yang mempertemukan lintas sektor yaitu akademisi, peneliti, arsitek, desainer, dan pelaku industri.
Acara dibuka dengan sambutan dari Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan (WRAM) ITB, Prof. Irwan Meilano, yang menyoroti tiga isu strategis global saat ini: keberlanjutan, material hijau, dan ekonomi sirkular. Beliau menekankan perlunya ITB membentuk pusat riset kolaboratif yang berfokus pada “Advanced Bamboo Technology“, guna menjawab kebutuhan infrastruktur tahan bencana di masa depan dengan menggabungkan keunggulan teknologi canggih dan material berkelanjutan.

Kegiatan Bamboo Expo 2026 yang diselenggarakan oleh SITH ITB di Design Center CADL (18/05/26).
Ketua KK Teknologi Kehutanan SITH ITB, Prof. Endah Sulistyawati, Ph.D., dalam sambutannya menjelaskan bahwa inisiatif ini disambut baik oleh kolega lintas fakultas, yakni FSRD dan SAPPK. Beliau memaparkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 100 jenis bambu yang potensial. KK Teknologi Kehutanan sendiri telah lama mengkaji berbagai aspek bambu, mulai dari anatomi, pengawetan, teknologi komposit, hingga pengabdian masyarakat di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
“Kami menyadari bahwa aspek pengembangan bambu tidak dapat berhenti pada penelitian laboratorium atau aspek hulu semata, material ini akan berkembang optimal ketika bertemu dengan kebutuhan desain, konstruksi, serta dunia industri dan pasar,” tutur Prof. Endah. Dukungan senada disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Sumber Daya SITH ITB, Dr. Dian Rosleine, yang berharap kegiatan ini dapat memperkuat ekosistem bambu nasional hingga global.
Sesi 1: Karakteristik Dasar, Rekayasa Material, dan Tantangan Industri Bambu
Diskusi sesi pertama membedah bambu dari sudut pandang sifat dasar biologis hingga aplikasinya di dunia industri. Dr. Atmawi Darwis membuka pemaparan dengan menjelaskan karakteristik dasar bambu yang dijuluki sebagai “keajaiban” karena kecepatan tumbuhnya yang eksponensial mencapai 5 hingga 10 cm per hari. Beliau memaparkan bahwa bambu memiliki kekuatan tinggi, elastisitas, dan tahan gempa berkat arsitektur ruasnya dan struktur dinding serat yang berlapis. Namun, bambu rentan terhadap serangan jamur dan kumbang bubuk akibat tingginya kandungan pati di jaringan parenkim.

Foto bersama narasumber pada sesi 1 (Dr. Atmawi Darwis, Ir. Ihak Sumardi, Ph.D., Syahdani Dauhari Pulungan, S.H.) bersama moderator Dr. Anne dan Ketua KK Teknologi Kehutanan Prof. Endah.
Sebagai solusi atas kelemahan tersebut, Ir. Ihak Sumardi, Ph.D. menjelaskan terkait rekayasa bambu cerdas, di mana beliau memaparkan inovasi rekayasa termal (pemanasan terkontrol). Melalui proses modifikasi struktur pati, bambu menjadi material yang tidak lagi disukai hama, sehingga jauh lebih awet dan stabil untuk kebutuhan panel skala industri, sekaligus memberikan standar visual warna yang konsisten. Selain itu beliau juga mengungkap empat pilar smart bamboo, yakni pengawetan, pengeringan, laminasi, dan produk struktural.
Dari kacamata praktisi, Pak Syahdani, Chief Operating Officer CV Shaniqua Bamboo, membagikan pengalaman industrinya yang telah sukses mengekspor furnitur bambu ke berbagai negara di Eropa sejak 1998. Beliau menjelaskan bahwa di industri, mengungkap proses sains pada bambu didapatkan berdasarkan pengalaman trial and error berkali-kali, tantangan utama di lapangan adalah dimensi bambu alami yang tidak pernah seragam serta sensitivitasnya terhadap kelembaban. Dalam industri ekspor furniture bambu, pengemasan merupakan hal penting. Oleh karena itu, industrinya mengembangkan rekayasa desain knock-down yang sangat efisien dalam memadatkan dimensi pengiriman logistik kargo ekspor, dari 7,48 meter kubik menjadi hanya 0,70 meter kubik.
Sesi 2: Arsitektur Cepat Tanggap, Modularitas, dan Skala Manufaktur

Pemaparan Dr. Ing. Andry dari SAPPK ITB terkait hasil eksplorasi bambu dalam struktur bangunan.
Pada sesi kedua, pemaparan bergeser ke arah arsitektur dan manufaktur. Dr. Ing. Andry Widyowijatmoko dari SAPPK ITB memperlihatkan hasil eksplorasi bambu dalam mendukung keberlanjutan, seperti pemanfaatan bambu untuk emergency shelter pasca bencana di Lombok, Palu, Mamuju, dan Cianjur. Dengan pengembangan metode sambungan yang mumpuni, bangunan dapat didirikan secara masif dan cepat. Beliau juga menampilkan inovasi struktur atap bentang lebar berbasis reciprocal frame pada Masjid Annur di Aceh, serta eksplorasi mutakhir berupa struktur bambu melayang di mana batang-batang bambu disatukan dengan sistem kabel tanpa saling menempel.

Pemaparan Bapak Permana S.T, M.T., dari SAPPK ITB terkait rancangan bambu modular pada sesi kedua.
Pendekatan berbeda ditawarkan oleh Bapak Permana, S.T., M.T. dari SAPPK ITB melalui penjelasannya mengenai “Bambu dan Modular”. Beliau berupaya menjembatani karakter bambu yang organik dan natural dengan sistem komputasi modular yang presisi dan repetitif layaknya blok Lego. Beliau melakukan kolaborasi arsitektur dengan SITH ITB melalui studi kasus rumah blok bambu modular yang berhasil dibangun di Kampus ITB Jatinangor. Melalui hal itu, beliau juga mengusulkan konsep manufaktur vernakular, sebuah ekosistem di mana masyarakat desa pinggiran hutan bambu dapat dilibatkan menggunakan mesin portabel untuk memproduksi komponen modular guna memenuhi permintaan pembangunan hunian massal.
Menutup sesi kedua, Bapak Dudi Darma Bakti sebagai praktisi industri dari PT. Mahadevi Project Consultant menjabarkan alur operasional pabrik bambu laminasi skala industri di Sukabumi. Beliau menjelaskan SOP ketat yang diterapkan, mulai dari seleksi tebangan, proses carbonizing (membuang sari pati), boiling (imunisasi rayap), hingga pengeringan oven selama 3-4 hari untuk mencapai kadar air yang dibutuhkan. Bilah-bilah bambu kering tersebut kemudian disatukan dengan sistem cold press dan hot press untuk menghasilkan bambu laminasi struktural kelas industri siap ekspor.
Sesi 3 dan Pameran: Eksplorasi Produk Riset dan Inovasi Bambu

Pameran berbagai produk inovasi bambu berskala arsitektural dan gaya hidup.
Bamboo Expo 2026 juga menghadirkan sesi mini pameran produk riset bambu yang memperlihatkan potensi material ini dari produk gaya hidup hingga komponen struktural. Pengunjung disuguhkan dengan pameran inovasi berskala arsitektural seperti purwarupa Rumah Bambu, Dinding Bambu, serta aneka Papan Laminasi Bambu struktural dengan variasi horizontal, vertical, hingga multicross bersilang yang memiliki stabilitas dimensional tinggi.
Lebih dari sekadar konstruksi, sentuhan seni dan desain produk juga ditampilkan melalui aneka home-appliances ramah lingkungan, mulai dari lampu lipat, lampu meja, speaker bambu bergaya modern, set meja kopi, hingga aksesori harian seperti kotak penyimpanan, piring, talenan, gantungan baju, hingga siwur (gayung bambu tradisional) yang sarat akan estetika kearifan lokal.
Pada sesi ini, aneka produk bambu yang ditampilkan pada pameran ini didesain oleh tangan-tangan andal buah karya para ahli yaitu Dr. Adhi Nugraha dan Dr. Muhammad Ihsan dari FSRD ITB, serta dari sektor industri Bapak Iwan Sung dari PT. Akusara Parahita Bambu. Keberhasilan pameran ini tidak lepas dari dukungan kolaborator industri nyata seperti PT Akusara Parahita Bambu, PT Mahadevi, dan CV Shaniqua Bamboo, serta periset desain lintas fakultas di ITB.


Pameran berbagai produk pemanfaatan material bambu untuk struktur bangunan maupun alat rumah tangga.
Kegiatan Bamboo Expo 2026 ini menjadi bukti nyata komitmen SITH ITB beserta seluruh mitra lintas fakultas dan industrinya dalam mendorong upaya pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan. Melalui kolaborasi riset, inovasi teknologi, dan sentuhan desain, bambu siap diangkat derajatnya dari material tradisional menjadi komoditas unggulan masa depan penyokong bioindustri dan ekonomi hijau di Indonesia.
Kontributor: Salma Sadiah (Bioteknologi, 2024)
Editor: Anca Awal Sembada, Ph.D.