Ekspedisi Penelusuran Habitat “The Lesser Unicorn” – XPDC HIMABIO NYMPHAEA ITB 2017

2Minggu, 8 Januari 2017 – Himpunan Mahasiswa Biologi ITB beserta Rana Kamera sejumlah 26 orang berangkat dari stasiun Bandung untuk memulai ekspedisi penelusuran habitat The Lesser Unicorn. Lesser Unicorn sendiri merupakan sebutan bagi badak bercula satu. Ekspedisi penelusuran habitat badak jawa berlangsung selama satu minggu di Taman Nasional Ujung Kulon tepatnya di Zona JRSCA (Javan Rhino Study and Conservation Area). JRSCA merupakan zona perluasan habitat alami yang berada di Ujung Kulon yang digagas oleh YABI (Yayasan Badak Indonesia) dan telah disetujui oleh IRF (International Rhino Foundation).
Kegiatan ekspedisi yang dilakukan diharapkan dapat memperoleh gambaran karakteristik habitat JRSCA yang merupakan areal baru dari jelajah badak. Penelitian karakteristik habitat badak jawa di JRSCA difokuskan untuk melihat karakteristik biotik dan abiotik. Karakteristik biotik yang dipelajari seperti keberadaan tumbuhan pakan badak serta keanekaragaman organisme nonbadak yang ada di sana. Karakteristik abiotik yang dipelajari berupa kondisi fisik kubangan Badak seperti dimensi ukuran kubangan dan data mikroklimat. Harapannya penelitian ini dapat dijadikan salah satu landasan untuk manajemen konservasi Badak Jawa oleh pihak Taman Nasional Ujung Kulon.
3Tidak hanya berhenti pada kegiatan yang bersifat penelitian saja, Himpunan Mahasiswa Biologi ITB juga bekerja sama dengan Rana Kamera untuk membuat film dokumenter terkait dengan Badak Jawa. Pembuatan film dokumenter ini dilakukan untuk tujuan edukasi dan konservasi. Dalam pembuatan film dokumenter diangkat isu sosiokultural tentang keberadaan Badak Jawa di masyarakat sekitar dan isu lain seperti adanya wacana pembuatan habitat kedua untuk Badak yang banyak menuai pro dan kontra. Kegiatan penelusuran habitat Badak Jawa dan pembuatan film dokumenter ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Himpunan Mahasiswa Biologi dan Rana Kamera dengan eksistensi Badak Jawa yang dinyatakan hampir punah oleh IUCN Red List. Pasalnya yang tercatat bahwa populasi Badak yang ada di Taman Nasional Ujung Kulon hanya terdiri dari 63 individu dengan jumlah pejantan yang lebih banyak dari betinanya sehingga masa depan populasi dari spesies ini tentunya sangan rentan untuk punah karena tingkat keanekaragaman genetik yang sangat rendah. Tentu suatu kondisi yang memprihatinkan. Kegiatan ekspedisi ini juga telah diliput oleh beberapa koran skala regional seperti Lintas Jateng maupun koran skala nasional seperti Warta Indonesia.

1 4