Bangkit kembali setelah lama tertidur: Kunjungan perdana ke Museum Zoologi SITH ITB

Penulis : Ganjar Cahyadi S.Si

SITH.ITB.AC.ID, JATINANGOR – Pada tanggal 29 November 2017, mahasiswa Program Studi Biologi angkatan 2016 telah melakukan kunjungan ke Museum Zoologi SITH ITB sebagai rangkaian praktikum dalam mata kuliah Biosistematika. Kunjungan ini merupakan kunjungan perdana setelah museum ini sempat tidak aktif selama kurang lebih 20 tahun. Setelah menjalani serangkaian proses pemindahan paralel sejak Agustus 2017, akhirnya museum yang dulunya terdapat di lantai 1 Labtek XI SITH ITB, kini menempati ruangan baru yang lebih luas di kompleks Gedung Kehutanan, ITB Jatinangor. Museum kini menempati gedung yang sama dengan Herbarium Bandungense agar fungsi pelayanannya dapat lebih terkonsentrasi. Meskipun masih dalam tahap perbaikan dan penataan kembali terhadap koleksi spesimen yang ada, sebanyak 79 orang peserta beserta 10 orang asisten praktikum dan salah satu dosen pengampu mata kuliah yaitu Dr. Rina Ratnasih sangat antusias dalam menggali informasi dan pengetahuan yang bisa didapatkan di dalam museum.

Gambar 1. Para peserta berkumpul di depan Gedung Kehutanan, Kampus ITB Jatinangor dan bersiap untuk melakukan kunjungan ke museum.

Saat ini, Museum Zoologi SITH ITB memiliki koleksi hewan yang cukup lengkap mencakup lima taksa vertebrata baik yang berasal dari Indonesia maupun luar negeri yaitu reptil (139 koleksi), burung (130 koleksi), amfibi (84 koleksi), mamalia (22 koleksi), dan ikan (koleksi masih dalam proses pendataan) serta koleksi invertebrata yang masih dalam proses penyortiran. Jumlah tersebut masih mungkin bertambah karena masih ada koleksi yang belum terdata dan masih tersimpan di ruangan museum yang lama di kampus ITB Ganesha. Dari data sementara yang tercatat, spesimen tertua dalam koleksi museum adalah burung luntur gunung (Harpactes reinwardtii Temm.) yang dikoleksi dari Cianten pada bulan Juli, 1932. Namun sayang, tidak ada keterangan kolektor pada opset burung ini. Sedangkan koleksi terbaru adalah opset kelelawar buah (Cynopterus brachyotis) yang baru didapatkan pada tanggal 2 November 2017 lalu di Kampus ITB Jatinangor dalam keadaan mati di jalan. Museum juga memiliki koleksi opset harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang merupakan koleksi terbesar sampai saat ini. Koleksi ini menjadi daya tarik sendiri bagi para mahasiswa yang berkunjung. Selain informasi taksonomi dari spesies yang digali, para mahasiswa juga sangat antusias untuk menggali informasi mengenai tata cara koleksi di lapangan, cara membuat awetan koleksi hingga sejarah museum. Banyak dari mereka yang baru tahu ada museum zoologi di ITB.

 

Gambar 2. Kanan: Opset harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang merupakan koleksi terbesar di Museum Zoologi SITH ITB. Kiri: Opset kelelawar buah hidung pendek (Cynopterus brachyotis) yang merupakan koleksi terbaru di Museum Zoologi SITH ITB.

 Berdasarkan hasil kuisoner yang diisi oleh para mahasiswa yang melakukan kunjungan, banyak masukan berarti yang dapat membuat kondisi museum menjadi lebih baik dari sebelumnya. Beberapa masukan yang dapat dirangkum diantaranya mengenai tata letak koleksi dan pencahayaan lemari koleksi; label spesimen; perawatan spesimen; restorasi spesimen yang rusak dan penambahan koleksi spesimen baru; hingga ke fasilitas yang harus ditambahkan di dalam museum seperti pendingin ruangan, infografis museum, publikasi, dan dekorasi terkait ilmu zoologi. Selain itu, banyak juga yang memiliki ide yang sejalan dengan rencana kegiatan museum ke depannya yang sudah didiskusikan sebelumnya oleh kurator museum dan kepala museum Dr. Achmad Sjarmidi. Berdasarkan hasil kuisoner juga, secara umum peserta kunjungan memiliki kesan yang positif setelah melakukan kunjungan. Menurut beberapa peserta, museum sudah bagus dan rapi dengan ruangan yang luas dan suasana yang enak. Museum juga memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri serta edukatif. Selain itu, kurator museum sudah baik dalam menjelaskan informasi umum mengenai museum, memberikan keterangan yang jelas serta sangat inspiratif. “Keren banget!!!, baru tahu ITB punya museum seperti ini, ditambah dengan jumlah spesies yang ada banyak juga. Semangat untuk identifikasi lebih lanjut! Sangat bermanfaat!” kata salah seorang peserta.

 

Dengan adanya kunjungan seperti ini berarti salah satu fungsi museum zoologi sebagai salah satu media pembelajaran telah berjalan. Adanya hubungan timbal balik yang konstruktif dari para peserta kunjungan juga sangat membantu dalam pengembangan museum untuk memberikan fungsi pelayanan yang lebih baik kedepannya. Penerimaan kunjungan seperti ini diharapkan terus diadakan untuk menunjang kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.