Biolexion 2.0 SITH ITB: Mengupas Dinamika, Tantangan, dan Strategi Konservasi di Indonesia
Bandung, sith.itb.ac.id – Himpunan Mahasiswa Biologi “Nymphaea” Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) telah sukses menyelenggarakan puncak acara Biolexion 2.0 pada 3 April 2026 di Aula Timur ITB Kampus Ganesha, dengan mengusung tema besar “Empowering Innovation for Biodiversity Crisis Solution”. Salah satu dari rangkaian acara ini menghadirkan akademisi dan praktisi untuk membahas terkait dinamika, tantangan, dan strategi konservasi di Indonesia, melalui diskusi panel yang bertajuk “Menilik Konservasi”.
Panel diskusi ini menghadirkan Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D., dosen SITH yang berkecimpung dalam bidang ekologi, konservasi dan restorasi hutan sebagai perwakilan akademisi, serta dari praktisi lapangan yaitu Sandyakala Ning Tyas yang kerap disapa Kang Echo, sebagai Chief Financial Officer (CFO) West Java Conservation Trust Fund (WJCTF) Wanadri di Hutan Konservasi Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi.
Diskusi kedua narasumber ini menyajikan perspektif akademisi dan praktisi lapangan mengenai dinamika konservasi di Indonesia, menekankan bahwa konservasi bukan sekadar perlindungan flora dan fauna, melainkan sebuah ekosistem kebijakan yang kompleks yang melibatkan aspek sosial, ekonomi, dan budaya.

Diskusi panel yang dihadiri oleh Prof. Endah dan Kang Echo (Wanadri) pada acara puncak Biolexion 2.0
Prof. Endah memaparkan bahwa konservasi dalam konteks modern tidak lagi dipandang sebagai isolasi alam dari manusia, melainkan sebagai pengelolaan jasa ekosistem. “Konservasi mencakup tiga kata kunci utama: perlindungan, pemanfaatan berkelanjutan, dan pengelolaan, dalam kerangka kesetaraan untuk menjaga warisan alam agar manfaatnya setara dan dapat dirasakan oleh anak cucu kita.” ujar Prof. Endah.
Melengkapi hal tersebut, Kang Echo menambahkan bahwa konservasi seharusnya menjadi sebuah way of life (gaya hidup), dan dimaknai sebagai tindakan mengambil secukupnya untuk menjaga keberadaan fisik sumber daya alam. Beliau menyoroti kearifan lokal suku Baduy sebagai contoh nyata, “Suku Baduy hanya mengambil sumber daya alam (seperti ikan) secukupnya sesuai kebutuhan, mempraktikkan pembatasan demi memastikan kelestariannya untuk keturunan mereka.” Ujar Kang Echo.
Terkait penerapan pemanfaatan berkelanjutan, Prof. Endah menekankan bahwa pemanfaatan yang paling aman adalah melalui tahapan budidaya atau pertanian, bukan sekadar memanen liar dari alam. “Konservasi juga bisa dilakukan di luar kawasan konservasi, misalnya dengan mendiversifikasi bahan pangan sehingga memunculkan kesadaran masyarakat untuk melestarikannya.” tutur Prof. Endah.

Pemberian plakat oleh panitia kepada Prof. Endah sebagai sebagai salah satu narasumber.
Lebih lanjut, Kang Echo memaparkan realitas di lapangan yang kompleks dan menghadapi tantangan struktural yang berat. Berdasarkan pengalamannya di Taman Buru Masigit Kareumbi, terdapat 48 jenis tekanan antropologis terhadap kawasan hutan, seperti pencurian kayu, aktivitas off-road, hingga perburuan liar menggunakan senapan. “Praktik eksploitatif ini sering didorong oleh faktor ekonomi, di mana warga sekitar menganggap hasil hutan sebagai sumber uang yang cepat, misalnya berburu burung liar untuk dijual. Oleh karena itu, tantangan utamanya adalah edukasi dan penegakan hukum yang harus beriringan.” ungkap Kang Echo.
Masalah utama dalam pengelolaan kawasan konservasi seringkali berakar pada minimnya pendanaan. Kang Echo mengungkapkan bahwa anggaran negara untuk konservasi sangat minim, hanya sekitar 5 dolar AS (Rp85.000) per hektar per tahun. Melalui pengelolaan yang baik, Wanadri membuktikan bahwa nilai ini bisa ditingkatkan menjadi 20 dolar per hektar per tahun, namun tetap membutuhkan alokasi dana dan dukungan lebih besar dari banyak pihak.
Prof. Endah menegaskan bahwa pengelolaan konservasi wajib melibatkan masyarakat lokal. “Solusi utamanya adalah mencarikan alternatif pendapatan (alternative income) agar masyarakat dapat hidup tanpa harus masuk dan merusak hutan. Penegakan hukum juga harus tegas agar lahan tidak terus-menerus dirambah dengan alasan kebutuhan lahan di wilayah padat seperti Pulau Jawa.” papar Prof. Endah.

Pemberian plakat oleh panitia kepada Kang Echo sebagai sebagai salah satu narasumber.
Menanggapi wacana komersialisasi kawasan konservasi melalui perdagangan karbon, kedua panelis memberikan pandangan kritis. Prof. Endah memperingatkan adanya risiko penghitungan ganda (double counting) jika kawasan konservasi dijadikan komoditas karbon, mengingat kawasan tersebut juga diandalkan negara untuk memenuhi komitmen penurunan emisi global. Sejalan dengan hal itu, Kang Echo mengingatkan, “Jika niatnya adalah melindungi hutan, maka lupakan perdagangan karbon. Jangan sampai komersialisasi justru membuat tujuan utama perlindungannya tertinggal”.
Dalam sesi penutup, diskusi panel ini menyimpulkan bahwa kunci keberhasilan konservasi terletak pada keterlibatan semua pihak dan penumbuhan semangat ‘Biofilia’ (ketertarikan alami manusia pada alam). Prof. Endah berharap acara seperti ini mampu menumbuhkan kembali kesadaran serta ketertarikan masyarakat urban terhadap alam. Sementara itu, Kang Echo berpesan kepada para generasi muda untuk terus berkarya, mengeksplorasi, dan memanfaatkan kekayaan hayati bijaksana demi kepentingan bangsa.
Kegiatan Biolexion 2.0 yang digagas oleh mahasiswa ini menjadi bukti komitmen SITH ITB dalam mendorong upaya konservasi untuk menjaga ekosistem dan sumber daya hayati Indonesia yang berkelanjutan.
Kontributor: Salma Sadiah (Bioteknologi, 2024)
Editor: I Dewa M. Kresna