Kuliah Wawasan Biomanajemen

Sektor perkebunan dapat dilihat sebagai ujung tombak dari pertanian Indonesia di pasar internasional. Data menunjukkan bahwa Indonesia saat ini merupakan penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, penghasil karet ke-2 terbesar, penghasil kakao ke-3 dan penghasil kopi ke-4 di dunia. Melalui komoditas-komoditas unggulan tersebut, nilai ekspor perkebunan Indonesia di tahun 2015 mencapai USD 27 miliar – berkontribusi sebesar 96% dari nilai ekspor seluruh produk pertanian. Di sisi lain, perdagangan internasional membawa tantangan baru bagi sektor perkebunan Indonesia, khususnya melalui ketatnya keamanan terhadap agen hayati (biosecurity), sebagaimana termaktub dalam Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS) di dalam pakta WTO — tantangan yang berat bagi negara tropis yang menjadi rumah bagi ribuan spesies organisme berpotensi hama dan penyakit seperti Indonesia. Demikian sekilas wawasan yang disampaikan oleh Bapak Heru Tri Widarto dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, yang juga merupakan alumni Departemen Biologi angkatan 1991, di dalam kuliah umum Biomanajemen bulan April lalu.

 

Di dalam kuliah wawasan ini, pembicara memaparkan bahwa permasalahan OPT semakin menjadi isu yang sentral di abad ke-21 ini karena setidaknya dua faktor: globalisasi dan perubahan iklim, yang meningkatkan laju pergerakan hama dan penyakit melewati batas-batas negara. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi rumpun keilmuan Biologi, yang diharapkan mampu memberikan solusi-solusi inovatif bagi permasalahan baru di sektor perkebunan. Sebagai contoh, bidang Entomologi dan Mikrobiologi dapat membantu di dalam mengidentifikasi jenis-jenis OPT baru serta upaya penanganannya, sementara Ekologi dapat membantu memahami plant-pest interactions dan menerapkan metode baru dalam sampling dan monitoring OPT. Hal ini tentu diimbangi dengan pemahaman yang menyeluruh tentang aturan di dalam perdagangan internasional dan dinamika sosial-ekonomi yang menyertai terbentuknya tata niaga pertanian baru.

Kuliah wawasan ditutup dengan dibukanya kesempatan bagi SITH untuk berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Perkebunan di Kementerian Pertanian, baik dalam bentuk kerja praktek di balai-balai penelitian dan pengembangan pertanian bagi mahasiswa, ataupun kerjasama penelitian antara dosen SITH dan tim fungsional peneliti di Kementerian. Mari berkontribusi secara nyata terhadap sektor perkebunan Indonesia melalui pendekatan-pendekatan baru di bidang Biologi. (Dr. Angga Dwiartama)

Sumber : berita SITH edisi ke-2